Zainal Si Anak Argopuro (Part. 1)

YBM BRILiaN
February 11, 2022

Aku Zainal, anak pertama bapak dan ibu yang baru saja lulus SD dan melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Sumbermalang. Bersekolah di kabupaten, aku senang sekaligus waswas. Persaingan menjadi semakin ketat. Teman-temanku tidak lagi hanya anak-anak buruh tani sepertiku, tetapi juga anak kepala sekolah, anak guru, anak pedagang, anak orang-orang kaya. Di sini, semua siswa memakai seragam yang bagus, punya buku-buku yang banyak. Namun, semua itu justru menambah semangatku untuk belajar. Oleh karena itu, akhir-akhir ini aku belajar lebih sungguh-sungguh dari biasanya.

Bersekolah sampai ke SMA ternyata membawa permasalahan baru bagi keluargaku. Situbondo itu jauh, otomatis aku harus tinggal di kos-kosan. Biaya hidup di sini sangat tinggi apabila dibandingkan dengan di desa. Mau tidak mau, aku harus membantu bapak dan ibu.

Aku mengamen ke rumah-rumah. Dengan bermodalkan botol bekas diisi beberapa butir beras dan suara yang pas-pasan, aku memutus urat maluku dan mengamen. Aku tidak tahu mengamen itu termasuk mengemis atau tidak. Yang aku tahu hanyalah aku butuh uang untuk makan. Kupikir, lebih baik aku mengamen daripada mendapatkan rezeki dengan tidak halal.

Bekerja membuatku cukup lelah. Aku harus pandai-pandai membagi waktu antara belajar dan mengamen. Jika minggu ulangan tiba, biasanya aku tidak mengamen dan lebih banyak belajar—sekaligus lebih banyak berpuasa. Tidak jarang aku tidak berpuasa tetapi juga tidak makan. Aku harus berhemat supaya bisa hidup di hari esok. Setiap aku merasa lelah menjalani ini semua, aku akan mengingatkan diriku kembali kepada cita-citaku: berguna untuk desa. Aku juga mengingat pesan bapak dan ibu: pendidikan itu penting.

Aku ingat betul saat aku mengutarakan keinginanku untuk berkuliah. Saat itu sore hari di rumah. Hanya ada tiga ruangan di rumah kami. Ketiganya disekat dengan tembok batako yang tipis sehingga suara dari satu ruang bisa terdengar ke ruangan lain. Aku baru selesai salat Asar di kamarku. Bapak dan ibu sedang duduk lesehan di ruang sebelah sambil mengipasi diri yang kepanasan. Ceritanya, aku sedang memanjatkan doa. Doa itu sengaja aku ucapkan kuat-kuat.

“Ya Allah… Jika Engkau mengizinkan, sesungguhnya aku ingin berkuliah. Aku ingin bisa menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuaku. Aku ingin bisa menjadi orang yang berguna untuk bangsa ini, ya Allah.” Aku tahu doa itu sedikit dilebih-lebihkan, tetapi itu datang benar-benar dari lantai hatiku. Tanpa berlebihan.

Malam harinya, aku buru-buru pergi tidur. Perasaan khawatir yang menyelimutiku membuatku ingin segera tidur dan bermimpi indah saja. Ternyata, aku tetap terjaga. Saat itulah, sayup-sayup aku mendengar bapak dan ibu mengobrol.

“Pak, menurut Bapak, bagaimana kalau Zainal berkuliah?” ibu membuka pembicaraan.

“Bapak, sih, nggak akan bisa bayarinnya. Tapi Bapak tidak melarang. Kalau Zainal bisa cari uang sendiri, Bapak akan se-nang sekali,” bapak menjawab.

Ibu segera menimpali, “Ibu selalu berdoa agar Zainal bisa kuliah, Pak.”

Seketika, mataku mengembun. Aku jadi memikirkan sesuatu. Mungkin keberhasilan yang aku alami dalam hidup selama ini bukanlah karena doa-doaku, melainkan karena doa bapak dan ibu. Tanpa keduanya, aku tidak mungkin menjadi siapa-siapa.

bersambung….