Zakat yang Berdampak: Kisah Teh Enan Merajut Keberdayaan

Di sudut yang tenang Kampung Pasir Walet, di antara bisikan doa pengajian pondok pesantren dan desir sunyi ladang yang digarap para petani, mengalir sebuah kisah hangat bak aliran sungai kecil yang tak pernah kering. Sejak Juli 2024, Mustahik Income Generating Program (MIGP) hadir seperti embun pagi yang menetes lembut, menyejukkan dan menyuburkan kehidupan sederhana Enan Nurul Husna, atau akrab disapa Teh Enan.
Bayangkan kobaran api kecil di kompor yang setia menyala, pisau, dan spinner yang berputar lincah seperti penari di panggung perjuangan mereka, baskom besar yang menampung tepung putih penuh harapan, serta toples berisi keripik renyah yang rapi menunggu waktu untuk dikemas. Tenda bazar itu pun menjadi saksi bisu, panggung kecil di mana mereka merangkai mimpi dan melawan dinginnya realita. Semua itu adalah anugerah yang datang dari tangan-tangan penuh kasih program zakat, yang membekali mereka dengan alat produksi dan modal usaha, sebuah ‘senjata’ baru untuk bertarung di medan kehidupan yang tak pernah ringan.
Sebagai informasi, MIGP merupakan program pemberdayaan ekonomi YBM BRILiaN yang fokus pada peningkatan keterampilan dan pengembangan usaha para mustahik (penerima zakat) dengan memanfaatkan potensi lokal di sekitarnya. Program ini memberikan stimulus berupa modal usaha dan alat produksi serta pendampingan usaha untuk membantu mustahik membangun dan mengembangkan usahanya secara mandiri.
Keteguhan Tanpa Batas
Teh Enan adalah jiwa sederhana, namun hatinya kaya akan keteguhan. Ia bukan hanya pengrajin rempeyek yang handal, tapi juga penjahit yang cekatan, dan pencuci pakaian para santri pondok yang menjadi tetangganya. Ia hidup dari beragam pekerjaan kecil yang dijalani dengan penuh keikhlasan. Di balik semua itu, ada kekuatan seorang ibu yang menopang tiga anaknya, si sulung yang berjuang di bangku kuliah dengan dua adiknya di sekolah dasar dan menengah pertama.
Dulu, kehidupan mereka hanya berbisik dalam kesederhanaan yang getir. Suaminya yang dahulu mengais rezeki sebagai pemborong hasil bumi kini hanya bertahan sebagai petani kecil, menggantungkan asa pada musim buah yang silih berganti datang, pisang dan durian bagai raja dan ratu yang tak menentu hadiahnya. Saat musim kemarau membentang, suara penghasilan terasa merintih, dan pada saat itulah Teh Enan turun tangan, menjadi perisai yang teguh, menopang keluarga dengan daya yang tak kenal lelah.
Namun di balik senyum manis dan semangatnya, tersimpan rahasia yang jarang tersentuh pandang. Teh Enan adalah jiwa paling peka, sosok paling terdepan dalam setiap kampanye kebaikan YBM BRILiaN. Di sela desah doa dari pondok yang mengitari rumahnya, ia menjadi lentera bagi sesama, simbol kesabaran dan baktinya yang tak tergoyahkan, meski suaminya kerap tak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Setiap tetes air matanya, yang ia simpan rapat hingga YBM BRILiaN hadir, menjadi saksi bisu keteguhan hati seorang pejuang keluarga sejati.
Buah dari Keteguhan
Lingkungan sekitar rumahnya dibalut nuansa religius, meski kini aroma getir dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang viral merasuk, merobek keheningan musim hujan. Di situ, hidup berjalan dalam irama keseimbangan, di mana para bapak bergulat sebagai buruh tani dan serabutan, sementara istri-istri kisahnya dipenuhi cinta dan perhatian tanpa kata.
Perubahan yang dialami Teh Enan adalah cahaya fajar setelah gulita malam panjang. Ia menuturkan penuh syukur,
“Alhamdulillah, sekarang saya terbantu oleh YBM BRILiaN. Produk keripik saya mulai dikenal, anak-anak bisa bawa bekal ke sekolah, kebutuhan sehari-hari tercukupi. Dulu, hanya mengandalkan hasil kebun yang tak menentu, sekarang penghasilan saya bisa sampai satu setengah juta per bulan, kadang hingga dua juta, bahkan menjelang Lebaran bisa sampai tiga juta,” ucap Teh Enan penuh syukur.
Dulu usaha kecil seperti mencuci dan menjahit datang sesaat, seperti tamu yang singgah sebentar. Kini, produksi rempeyeknya berjalan rapi dan teratur. Lebih berharga dari segalanya, setelah bergabung dalam program ini, Teh Enan mendapat sertifikat halal, Nomor Induk Berusaha (NIB), pelatihan yang memperkaya jiwa dan pengetahuan, serta kesempatan untuk berbagi lewat infak dan sedekah, sesuatu yang dulu terasa jauh dan mustahil karena belenggu keterbatasan ekonomi.
Kisah Teh Enan adalah doa yang hidup, sebuah gambaran perjuangan tanpa henti yang tumbuh dari akar pengajian dan keripik renyah. Ia berjalan seiring MIGP Keripik Paswal, menatap masa depan yang memancarkan harapan dan keikhlasan. Bagi Kampung Pasir Walet, Teh Enan bukan sekadar mustahik pelaku usaha kecil, dia merupakan lambang kekuatan dan harapan yang menggerakkan roda kehidupan.

Zakat yang Memberi Dampak
Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, melainkan sarana mulia yang berperan penting dalam pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Melalui zakat yang dikelola dengan baik, seperti dalam program MIGP, zakat menjadi kekuatan transformasi sosial yang nyata. Nilai zakat terpancar dari kemampuannya memfasilitasi mustahik seperti Teh Enan untuk memperoleh modal usaha, alat produksi, dan pendampingan usaha yang berkelanjutan.
Dampak zakat terlihat dari bagaimana bantuan tersebut mengubah kehidupan mustahik, dari ketergantungan menjadi mandiri. Kisah Teh Enan menjadi salah satu bukti bahwa zakat yang dikelola secara efektif membawa keberkahan dan dampak berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang lebih sejahtera.