Berkat Mesin Penggiling Kedelai, Kapasitas Produksi Tahu Iwul Binaan YBM BRILiaN Melonjak Tajam

oleh Siti Nurlaela
Juli 28, 2026

epat pada Sabtu (18/07), YBM BRILiaN Regional Office (RO) Banten menggelar evaluasi perkembangan wirausaha binaan. Melalui pilar program Ekonomi yaitu Pendampingan Kelompok MIGP Tahu Iwul.

BOGOR – Dampak positif dari program pendampingan usaha berbasis komunitas terus menunjukkan capaian yang membanggakan. Pada hari Sabtu (18/07), YBM BRILiaN Regional Office (RO) Banten menggelar evaluasi perkembangan wirausaha binaan dengan merilis agenda Pendampingan Kelompok MIGP Tahu Iwul.

Tujuan melaksanakan monitoring ini adalah untuk mengevaluasi hasil serta kemajuan usaha harian para anggota. Lembaga menggelar peninjauan rutin ini guna memastikan intervensi peralatan dan pembinaan terkelola secara optimal. Melalui pemantauan berkala, YBM BRILiaN membantu produsen olahan kedelai lokal dalam merumuskan strategi peningkatan skala usaha.

Peningkatan Produksi Signifikan Kelompok MIGP Tahu Iwul

Lembaga memusatkan lokasi kegiatan di rumah salah satu anggota kelompok di Desa Bojong Sempu, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan tempat ini memberikan kemudahan akses kumpul bagi seluruh perajin. Area produksi yang memadai mendukung kelancaran proses diskusi serta peninjauan alat usaha secara langsung.

Sejak awal mendapatkan pendampingan dari program Mustahik Income Generating Program (MIGP), YBM BRILiaN Banten telah memberikan intervensi teknologi. Lembaga memfasilitasi pengadaan mesin penggiling kedelai modern untuk mempercepat proses produksi harian. Pendamping kelompok Ibu Ayu Afriana juga membekali anggota MIGP dengan pelatihan perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), standar K3, serta pencatatan pembukuan keuangan.

Hasil monitoring lapangan menunjukkan lompatan kapasitas usaha yang sangat tajam dan signifikan. Pasca-intervensi mesin dan bimbingan HPP, kelompok sukses menaikkan harga jual tahu dari Rp500 menjadi Rp800 per buah tanpa mengurangi kualitas produk. Kapasitas cetak tahu melonjak pesat dari semula 500 buah menjadi 650 hingga saat ini bisa memproduksi 1.400 buah per hari.

Lompatan produksi ini secara langsung mendongkrak capaian omzet kotor anggota hingga menyentuh angka Rp14.000.000,- sampai Rp25.000.000,- per bulan. Melalui pengelolaan yang lebih tertata, masing-masing perajin kini mampu mengantongi laba bersih berkisar antara Rp3.500.000,- hingga Rp6.000.000,- setiap bulannya.

Mengawal Kesejahteraan Perajin Secara Berkelanjutan

Pendampingan intensif ini hasil dari mendayagunakan dana zakat, infak, dan sedekah secara produktif. Lembaga tidak hanya memberikan bantuan perbaikan sarana fisik di awal program tetapi juga mengawal tata kelola keuangan perajin agar mampu mandiri secara finansial.

“Monitoring dan evaluasi ini dilakukan untuk memastikan usaha yang dijalankan benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi para anggota. Kami berharap kelompok terus menerapkan ilmu yang telah diperoleh sehingga usahanya semakin produktif, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga secara berkelanjutan,” tutur Ayu Afriana, Fasilitator MIGP YBM BRILiaN RO Banten.

Pemberdayaan kali ini telah berhasil menaikkan kelas usaha mikro menuju produsen olahan lokal yang tangguh. Keberhasilan program MIGP Tahu Iwul ini juga menjadi bukti pentingnya modernisasi sarana usaha bagi perajin tradisional agar efisien. Ketika efisiensi teknologi dipadukan dengan pembinaan manajemen keuangan yang tepat, taraf hidup kelompok prasejahtera akan meningkat drastis. Oleh karena itu, seiring meningkatnya angka produksi tahu saban hari, untaian doa kebaikan terus terucap. Semoga ketulusan para muzaki dan donatur bisa mendatangkan berkah melimpah dan mengantarkan Kelompok MIGP Tahu Iwul menuju puncak kemandirian.