Kisah Khusnul Nasikin: Menemukan Jalan Wirausaha hingga Mengelola Tiga Workshop Sablon di Sidoarjo

Di sebuah sudut Desa Keboharan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, deru mesin cetak saring dan kesibukan pengerjaan pesanan kaos menjadi pemandangan harian di Tukang Sablon Keboharan (TSK). Usaha yang kini berdiri stabil dan terus berkembang ini dirintis oleh Khusnul Nasikin dengan keterbatasan pengalaman awal di bidang sablon.
Langkah Khusnul bermula pada tahun 2019. Kala itu, ia memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki taraf hidup keluarga, tetapi terbentur modal dan keahlian teknis. Saat itulah YBM BRILiaN hadir melalui Mustahik Income Generating Program (MIGP)—dahulu dikenal sebagai Program Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR)—untuk membukakan jalan pembinaan usaha.
Pendampingan Bertahap dan Resiliensi Usaha
Intervensi awal diberikan secara komprehensif. Bukan sekadar menyalurkan modal usaha untuk pengadaan peralatan dan bahan baku, YBM BRILiaN juga menghadirkan Wiwit Trisningati sebagai pendamping lapangan. Selama satu tahun penuh, Khusnul dibimbing untuk menguasai teknik cetak saring, pengelolaan keuangan harian, hingga strategi melayani pelanggan.
Tantangan berat menghampiri ketika pandemi COVID-19 melanda, di mana aktivitas operasional TSK sempat terhenti akibat sepinya pesanan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan persaingan industri cetak pascapandemi, ketekunan Khusnul serta penerapan manajemen usaha dari masa pembinaan menjadi kunci utama untuk mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Berbuah Manis: Transformasi Kemandirian Usaha
Peninjauan lapangan pada Rabu (21/10) menjadi gambaran nyata dari perkembangan usaha Khusnul. Sablon TSK yang tadinya dimulai dari skala kecil, kini berhasil berekspansi dan mengelola tiga lokasi workshop sablon aktif secara mandiri.
Khusnul kini mampu menjalankan usahanya dengan lebih percaya diri. Ia tumbuh menjadi wirausahawan lokal yang mandiri dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
“Terima kasih sebesar-besarnya untuk YBM BRILiaN yang sudah memberikan dukungan kepada kami. Dari yang awalnya merintis perlahan, sampai sekarang kami bisa membuka tiga workshop. Semoga program ini terus membawa manfaat luas bagi masyarakat,” ungkap Khusnul.
Melalui pendayagunaan zakat dan infak para muzakki dan donatur yang tepat sasaran dan berkesinambungan, kisah Khusnul Nasikin menjadi cerminan bagaimana ikhtiar pemberdayaan mampu mengantar seorang mustahik menuju kemandirian ekonomi.